Showing posts with label Tahukah Kamu. Show all posts
Pembangkit Listrik Tenaga Pico Hydro Karya Warga Desa
Berada
di perbatasan antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, Desa Kasintuwu adalah batas paling utara Provinsi Sulawesi Selatan, Desa dengan mayoritas penduduknya berasal dari suku pamona dan beberapa etnik pendatang seperti suku toraja, bugis, dan
Jawa, hidup berdampingan secara harmonis walau sampai saat ini di beberapa dusun belum menikmati fasilitas listrik dari pemerintah.
| Air Terjun di Dusun Mangkulande |
Ketiadaan listrik tidak menyurutkan semangat para penduduk Desa. Dengan adanya
sungai dan kontur yang penuh perbukitan seperti ini, salah satu penduduk desa di Dusun Mangkulande memiliki ide membangun pembangkit listrik tenaga air. penduduk yang memiliki usaha warung makan ini memanfaatkan derasnya air terjun yang ada dibelakang rumahnya dengan mengalirkan air dari ketinggian melalui sebuah pipa panjang sehingga debit air yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tersebut stabil.
Bermodalkan mesin pompa air dan beberapa karet ban bekas warga desa ini membuat sebuah generator dan poros puli sebagai mesin pembangkit tenaga listrik bertenaga air. berikut adalah video yang menampilkan bagaimana pembangkit listrik tenaga pico hidro buatan warga Dusun Mangkulande ini bekerja.
Monday, 17 November 2014
Posted by Elvin Pangadongan
Perbedaan Flashdisk Palsu dan Asli : Tips Memilih Flashdisk
![]() |
| Perbandingan Flashdisk Kingston yang asli dan yang palsu |
Ciri-ciri Flashdisk
Palsu :
- Posisi flashdisk. Saat
dicolok, flashdisk ori posisinya lurus dan tegas, tetapi tidak untuk
flashdisk palsu, saat dicolok posisinya sedikit bengkok ke bawah / tidak
lurus.
- Kapasitas Flashdisk. Pada
flashdisk KW (palsu), kapasitas yang tertera di kemasan tidak sesuai
dengan kapasitas asli flashdisk. Misal di kemasannya tertulis 16 GB, tapi
setelah dicek di komputer (klik kanan properties), ternyata hanya
berkapasitas 2 GB saja.
- Proses Pengiriman Data. Pada
flashdisk original, kecepatan pengiriman datanya cenderung selalu stabil,
sehingga lebih cepat. Lain halnya pada flashdisk KW, proses pengiriman
datanya sangat dinamis, kadang cepat, kadang lambat.
- Harga. Flashdisk palsu pasti harganya jauh lebih murah dari yang asli. Saya pernah beli flashdisk 16GB seharga 100rb. Nggak tahu ini asli atau palsu, waktu itu belum berpengalaman, jadi nggak merhatiin ciri-cirinya. Dan saya pun lupa naruhnya dimana, mungkin juga udah saya buang. Yang jelas, baru beberapa bulan menggunakannya, tahu-tahu rusak, padahal memakainya juga tidak sembarangan, lumayan dirawat.
- Data Mudah Rusak. Seringkali data-data yang disimpan dalam flashdisk KW mudah rusak sendiri, folder-folder penyimpanan berubah jadi huruf nggak jelas, data hilang sebagian, data eror.
- Sulit Dideteksi. Ketika
baru pertama kali nyolok flashdisk di laptop atau komputer, pasti akan
terjadi proses perkenalan device. Paling lama 20 detiklah, seharusnya
flashdisk sudah terdeteksi. Lain halnya dengan flashdisk palsu, butuh
waktu berkali-kali colok untuk mendeteksinya, karena terkadang satu kali
colok belum terdeteksi.
- Garansi. Para
penjual flashdisk KW biasanya tidak mau memberi garansi pada produknya.
Jadi kalau rusak, kamu harus beli lagi. Lain halnya dengan flashdisk asli,
garansi vendor (pabrik) akan diberikan dalam beberapa bulan, bahkan tahun.
Dengan membaca artikel
ini, semoga bisa membantu kamu yang lagi bimbang membeli flashdisk, sehingga
bisa lebih teliti dan tidak tertipu, karena USB Flashdisk abal-abal ini sudah
mampu meniru merk-merk flashdisk terkenal seperti kingston, sandisk, toshiba,
dan lain-lain.
Semoga bermanfaat, mungkin kamu mempunyai pengalaman lain seputar flashdisk palsu ini?
Semoga bermanfaat, mungkin kamu mempunyai pengalaman lain seputar flashdisk palsu ini?
Sunday, 19 October 2014
Posted by Elvin Pangadongan
So Indonesia
Berikut ini merupakan kumpulan pendapat dari orang-orang asing mengenai Orang Indonesia:
”Orang Indonesia gak bisa antri,”
(Kata petugas Customs pada saya di bandara internasional San Francisco, 1992, ketika saya tak sengaja menyalip antrian pemeriksaan pabean)
”Orang Indonesia kalau kerja tidak berkeringat, kalau makan berkeringat,”
(Simpul seorang guru Jepang di Sekolah Jepang Surabaya, tempat saya pernah mengajar bahasa Inggris, 1998)
”Kalau orang Indonesia bilang ’no problem’, itu berarti ’big problem,”
(Ucap dua wartawan koran asal Jerman yang menyewa saya sebagai penterjemah ketika mengikuti perjalanan wisata sebuah keluarga dengan dua orangutan. Keluarga ini diberi hak asuh orangutan dari Kebun Binatang Surabaya, 1996)
”Orang Indonesia suka mengurusi urusan orang lain,”
(Pendapat murid saya, lelaki asal Amerika yang diusir Pak RT ketika mengapeli pacarnya yang tinggal di kampung di Surabaya. Ia diusir karena belum pulang juga dari rumah pacar sampai pukul 22.00)
”Orang lain kalau bersalah minta maaf. Orang Indonesia kalau bersalah malah tertawa,”
(Kata teman saya asal Simon Lee, asal Singapura. Saya jadi ingat Amrozi, teroris otak bom Bali yang terus-tersenyum-senyum di depan kamera televisi meski baru menghabisi lebih dari dua ratus nyawa wisatawan di café Sari dan café Padi di Kuta)
“Indonesia itu negara surga. Saya salah jalan, ditilang polisi, saya sodori Rp 20.000. Beres! Kalau di negara saya, SIM saya disita, saya harus ke pengadilan, makan biaya, makan waktu lama, bikin capek”
(Ucap Peter Mudd, teman saya asal Inggris, punya Kursus Bahasa Inggris di Surabaya)
”Indonesia dipenuhi pecinta keindahan sekaligus perusak keindahan. Coba itu lihat, pohon-pohon ditempeli iklan pakai paku, ruang-ruang publik yang baru dicat atau dibangun ditempeli iklan jasa sedot WC, spanduk malang melintang di tengah jalan. Rambu-rambu lalu lintas juga ditempeli iklan macam-macam jasa, termasuk iklan basmi kecoak”
(Pengamatan Catherine Anderson, asal Perth, Australia, siswa Bahasa Indonesia saya)
“Saya heran, kalau lagu Indonesia Raya tengah berkumandang, orang di sini tidak berdiri tegak dengan posisi khidmat. Di negara saya, kalau lagu kebangsaan mengudara di loud-speaker umum, kami wajib menghentikan semua kegiatan dan berdiri khidmat,”
(Kata Singkong Pitbongsarakul, teman asal Thailand yang suka mengajari saya masakan Thai)
“Orang Indonesia pintar menyulap angka. Saya suruh anak buah saya beli pompa air listrik. Ia menyerahkan bon resmi bernilai Rp 2,5 juta. Belakangan saya tahu harganya cuma Rp 2,1 juta”
(Kata Andrei Dimitriakis, asal Yunani, seperti diceritakan pada teman saya. Andrei adalah manajer eksekutif bidang pemasaran perusahaan sabun internasional di Surabaya)
“Jam karet! Janji jam 10.00, datang jam 11.00. Kalau janji temu meleset, HP-nya sulit dihubungi”
(Pendapat Helena Sanchez, kenalan baru saya, asal Argentina, bolak-balik ke Indonesia sebagai utusan LSM internasional untuk urusan disaster recovery)
diambil dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/30/orang-indonesia-di-mata-asing-quoted/
